Senin, 01 Februari 2016

Cita-cita seorang Kartini


Hampir seharian ini membaca buku yang barusan aku beli. Buku yang sebenarnya sudah lama pengen baca tapi belum punya. Pernah mau pinjam sama kawan yang punya buku ini, namun ragu akan konsisten mengkhatamkan dalam waktu singkat. 

Buku ini tentang Kartini yang di Indonesia diperingati setiap tanggal 21 April. Walaupun sejak di sekolah dasar diperkenalkan lewat pelajaran-pelajaran sekolah, namun baru hari ini sempat membaca 'surat-surat' kegelisahan Kartini yang dikirimkan ke teman bulenya dalam buku "Habis gelap terbitlah terang" oleh Armin Pane yang diterbitkan Balai Pustaka.

Di halaman pengantar dan juga di cover belakang Armin Pane memberi simpulan tentang Kartini dari surat-suratnya itu. "Ada tiga perkara yang membuat Kartini dan surat-suratnya itu penting dan patut menarik perhatian, pertama: cita-cita; kedua: perjuangan di jiwanya dan perjalanan rohaninya yang berubah lambat laun; ketiga: gaya bahasanya".

Di cover belakang buku ini juga dikutip kalimat surat Kartini. "Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuacanya. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam. Air hujan yang menjadikan sebatang tumbuh-tumbuhan. Berdaun dan bertunas menumbuhkan yang lainnya. Dan menjadikan tumbuhan yang lainnya. Dan menjadikan tumbuhan itu busuk. Tiap-tiap harus kita doakan kepada Tuhan: Kekuatan".

Demikian dulu ya. Lain kali di ulas lebih lanjut. Mau nonton versi filemnya dulu di Youtube.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar